Sabtu, 19 Mei 2012

MENGENAL AREA BANDUNG

1. BANDUNG TENGAH
  • Terletak Balaikota Bandung, Alun-alun Bandung dan lapangan Tegalega
  • Tempat Car Free Day di sekitar Jalan Dago bawah hingga Jalan Merdeka
  • Banyak cafe tempat hangout sekitar Jalan Progo & Riau
  • Banyak toko factory outlet (F.O) di sekitar Jalan Riau
  • Tempat Perguruan Tinggi : UNPAD (S2), ITB, UNISBA, UNPAS, UNIKOM, STBA Yapari, UNLA, Taruna Bakti, dll.
  • CBD-nya Bandung di sepanjang Jalan Asia Afrika
  • Tol gate terdekat : Tol Pasteur
  • Stasiun Kereta Api utama di Jalan Kebon Kawung
  • Tempat suttle bus Bdg-Jkt di sekitar Jalan Dipatiukur dan Cihampelas
  • Bandara Udara Husen Sastranegara 
  • Mall : BIP, IP, BSM, BRAGA, Pasar Baru, BEC, BTC, ITC, IBCC, BeMall, dll.
  • Terminal angkot : Kebon Kalapa, Stasiun Hall, Ciroyom, Cicadas, Leuwi Panjang
  • Banyak bangunan ex Belanda
2. BANDUNG UTARA
  • Daerah paling sejuk di Bandung dan banyak hujan
  • Banyak cafe keren di ketinggian Bukit Dago atas
  • Banyak ekspatriat tinggal di kawasan ini
  • Tempat Perguruan Tinggi : UPI, ENHAII, TELKOM, POLBAN, UNPAR, Maranatha, Akripa, dll.
  • Mall : PVJ, CIWALK
  • Tol  gate terdekat :  Tol Pasteur
  • Terminal angkot : Ledeng, Dago, Sarijadi / Gegerkalong, Ciumbuleuit.
  • Jalan utama menuju kawasan wisata Gunung Tangkuban Parahu, Lembang, Ciater, Subang, dll.
  • Sumber air untuk sungai Cikapundung yang membelah kota Bandung
  • Banyak rumah ex Belanda
3. BANDUNG BARAT
  • Daerah paling dekat ke Cimahi dan Padalarang
  • Daerah sentra penghasil kerajinan sepatu, boneka, tas dan kain sekitar Kopo dan Cigondewah
  • Pasar sayuran terbesar yaitu Pasar Caringin 
  • Terminal angkot : Caringin, Elang, Kopo, Cijerah, Cibaduyut
  • Tol gate terdekat : Tol Pasirkoja
  • Banyak perumahan : Elang, Taman Kopo, Kopo Sayati, Holis, Pharmindo, Gempol, Situ Aksan, Cibolerang, Cigondewah, Melong Asih, Cibaduyut, Cijerah, Cibeureum, dll.
  • Mall : Gudang rabat Alfa, Miko Mall, Lotte Citylink
  • Jalan utama menuju wisata Ciwidey via Kopo-Soreang
  • Lanud TNI-AU Sulaiman di daerah  Kopo Margahayu
4. BANDUNG SELATAN
  • Bekas Ibukota Bandung jaman dulu yaitu Dayeuhkolot
  • Masih banyak terdapat angkutan delman dan Elf ke arah Banjaran
  • Tol gate terdekat : Tol Dayeuhkolot
  • Jalan utama ke daerah wisata Pangalengan via Mohammad Toha-Dayeuhkolot
  • Muara sungai Citarum
  • Perumahan : Batununggal, Parakan asri, Karasak, Derwati, Ciwastra, Margacinta, Sumbersari, dll. 
5. BANDUNG TIMUR
  • Merupakan daerah perumahan terbanyak seperti : Margahayu-Raya, Riung-Bandung, Metro, Arcamanik, Antapani, Pratista, Ujung Berung, Padasuka, Cicaheum, Cikadut, Cilengkrang, Cipadung, Sekejati, Cidurian, Adipura, Cisaranten, Aria Graha, Palem, Pinus, Kawaluyaan, Guruminda, Parakan Saat, dll.
  • Pasar sayur terbesar yaitu pasar Gede Bage bersebelahan dengan pasar baju bekas terbesar yaitu Cimol Gede Bage.
  • Terminal Peti Kemas Gede Bage
  • Mall : MTC, Metro, Lucky Plaza, BTM
  • Terminal angkot : Cicaheum, Gede Bage, Cibiru
  • Daerah bekas areal persawahan yang agak jarang turun hujan
  • Tol gate terdekat : Tol Buah Batu & Cibiru
  • Perguruan Tinggi : UNINUS, STSI, UIN Gunung Jati, STISI Telkom, Widyatama, Universitas Al-Ghifari, dll.
  • Jalan utama menuju UNPAD Jatinangor, STPDN, Ikopin, Unwim, Sumedang, Garut, Jateng, dll.

SATE & SOTO ENAK DI BANDUNG TIMUR

1. Sate Halimpu 

Ada sebuah warung sate sekitar jalan Soekarno Hatta, tepatnya di dekat PINDAD dan Cidurian (seberang mebel Mer) sebelum Metro Indah Mall (MTC) kalo dari arah ke Cibiru.
Nama warung sate itu adalah Sate Halimpu. Di plangnya yang berwarna hijau tua yang genjreng itu, ditulis sate halimpu yang merdu rasanya. Waahhh ada-ada aja, lidah ketuker sama telinga dong. Halimpu dalam basa sunda berarti "suara yang merdu".

Waktu itu saya memesan 10 tusuk sate kambing dan 10 tusuk sate ayam. Kambing yang digunakan adalah daging anak kambing yang bisa kita lihat tergantung di roda depan warung. Setelah menunggu sekitar 15 menit, datanglah pesananku.....dan begitu digigit, wuihhhh!!!! empuk sekali.....kedua jenis sate ini rasanya segar, juicy, tapi tidak terlalu banyak bumbu sehingga rasa dagingnya jadi jelas. 

Saya rekomended banget deh sate ini buat yang suka sate tapi males ngunyah kesana kemari dan gak suka berhubungan tusuk gigi. Soal harga, memang lebih mahal dari sate pinggir jalan yang lain, tapi secara kualitas memang oke banget.

2.  Soto Sadang

Warung Soto ini letaknya tidak jauh dari sate halimpu, tinggal lurus saja sampai kita menemukan warung ini tepat di seberang Lotte Mart Soekarno Hatta. Sekilas seperti rumah biasa di pinggir jalan, berwarna cream kuning dan di jendela depannya dipasang tirai lampit dari kayu dengan tulisan cat merah. Saya pernah mencicipi soto di daerah Sadangnya sendiri yaitu sekitar Purwakarta, tapi menurut saya rasa soto di warung ini lebih leker.


Di warung ini kita bisa memilih jenis kuah bening atau kuah santan. Sedangkan dagingnya tersedia pilihan daging sapi, ayam, atau kikil. Yang saya suka dari soto ini adalah kesegaran santannya, bumbunya yang pas, dan rasanya benar-benar segar gurih apalagi kalo ditambah acar timun bawang yang selalu ada di atas meja. Disamping itu, saya juga suka dengan minuman teh panas gratis yang harumnya seperti teh kampung.


Minggu, 06 Mei 2012

RUMAH MAKAN SUNDA BU IMAS DI BANDUNG

Orang Bandung mah kalo makan di Bu Imas gak ada yang 'ancin' (males makan) pastilah jadi 'rewog' kayak jawara lebay pake bedog..........beberapa teman saya dari Jakarta seringnya cuma 'main' di Ampera, so saya ajak mereka ke rumah makan ini dan mereka suka sekali. Sebelumnya saya suka meng'ospek' mereka dulu dengan tantangan sambel Bu Imas yang 'manis' itu sambil menunggu reaksi dengan hitung mundur.....7,6,5,4,3,2...1 detik....Buseetttt!!!!

Bu Imas mangkal di perempatan Kebon Kalapa, sebrangan dengan Ampera Kebon Kalapa. Masing-masing punya makanan andalan dan pelanggan masing2 jadi gak bentrok gitu. Yang saya suka Bu Imas adalah ayam bakarnya yang selalu segar, baru dibakar, yang harum asapnya kemana2. Setiap antri makan, pasti sudah 90% penuh, dan saya nyelip diantara bangku panjang yang di depannya sudah terhidang berkotak2 makanan berbagai macam yang variasinya lebih banyak daripada variasi makanan yang ada di Ampera. Jadi sambil makan kita tinggal ambil2 sendiri aja lauk pauk sesuka kita dan kalau sudah beres makannya baru kita minta hitung ke si akang2nya dan bayar. Di Ampera terjadi kebalikannya, ambil2 dulu di meja parasmanan lalu ke kasir, bayar, dan kemudian baru makan.

Menurut pengalaman, setiap saya habis makan di Bu Imas lalu berdiri mau pulang, gak sampai semenit tuh bangku dah diduduki pantat orang lagi. Dan menu ayam bakarnya sekotak besar selalu habis dan minta ditambah lagi. Cuma dulu ayamnya besar2 tapi terakhir kemarin saya kesana kok jadi agak mengecil ukurannya hihihi.....meskipun antri tapi antrinya gak akan lama kok, soalnya orang yang datang ke sana memang cuma pengen makan doang, gak enak kalo dipake hangout ngalor ngidul mah....soalnya tempatnya hiruk pikuk dan sempit sih.

Masalah yang paling utama kalo makan di Bu Imas adalah masalah parkir, terutama mobil. Sekarang ada juga Bu Imas II di daerah situ2 juga, cari aja sepanjang jalan Balong Gede, parkirnya lumayan, ruangan dan bangunannya lebih representatif tapi soal rasa kok beda ya, padahal sama-sama Bu Imas. 

Dulu sebelum jadi pelanggan Bu Imas, saya suka juga makan di AA Laksana, enak juga tapi harganya agak mahal. Sejak terjadi masalah dg keluarga ownernya, namanya jadi berubah karena dipisah menjadi 2 perusahaan, kalo gak salah yang satu tetap AA Laksana dan yang baru menjadi RM Laksana. Ada juga rumah makan sunda lainnya yang terkenal seperti Ponyo tapi letaknya di pinggir kota yaitu di Cinunuk (daerah Cibiru) tapi sekarang bukan asli makanan sunda doang, ada juga makanan eropa dan berbagai kue.

Saya juga masih sering ke Ampera karena cabangnya ada di mana2, hadap-hadapan lagi jadi mudah kalo pengen makan di situ.....biasanya kalo saya malas masak di rumah, udah minta Ampera dibungkus aja. Tapi saya paling anti kalo di hangatkan dulu, karena beberapa kali ada insiden makanan ketuker atau ada item yang kurang. Mungkin karena banyak keluhan, setiap saya minta bungkus ke rumah, si teteh penjaganya selalu bilang untuk di cek lagi. Maklumlah Ampera kan bukanya sampai malem banget dan selalu rame jadi para pegawainya seperti agak kewalahan. Jadi kalau ke Bandung pengen makan masakan sunda, silahkan coba saja semua rumah makan itu, dan bandingkan sendiri mana yang paling oke......wilujeng tuang!






Kamis, 03 Mei 2012

CARA MUDAH BELAJAR SEJARAH

Ini buku sejarah yang keren banget!!!........ entah ya dulu kalau disuruh ngapalin sejarah malesnya minta ampun sampai saya lebih tertarik mengambil jurusan IPA waktu SMA. Tapi kalo dulu diajarin sejarahnya pake buku ini kayaknya lain cerita deh.

Buku ini istimewa banget, ditulis oleh Mr. Muhammad Yamin, salah satu pahlawan di era kemerdekaan Indonesia, dimana buku ini ditujukan sebagai alat bantu pengajaran sejarah di sekolah menengah. Terbit tanggal 17 Agustus 1956 oleh Penerbit Djambatan yang berhasil mengumpulkan foto-foto dari seluruh dunia dalam waktu yang singkat (kebayang waktu itu belum ada internet atau google) yang semuanya berjumlah 563 buah foto hitam putih.  Berikut adalah beberapa halaman dari buku itu :





















Buku ini terdiri dari 2 Bab. bagian pertama menceritakan tentang sejarah di tanah air yaitu zaman prasejarah, proto-sejarah, kerajaan di nusantara, babakan internasional dan proklamasi. Bagian 2 adalah sejarah dunia yang diurutkan menurut tarich, dimulai dari sejarah di asia tenggara sampai sejarah di belahan dunia lainnya. 

Setiap foto dalam buku ini diberi nomor dan nomor ini disesuaikan dengan catatan singkat keterangan tentang foto tersebut. Gaya bahasa dari Muhammad Yamin ini menurut saya unik, dengan ejaan lama tapi indah, singkat, padat dan gampang diingat. Contoh di halaman 42 foto no.135 tentang naskah kuno mesir ditulis...........

Selembar tulisan dari buku Sastera Maut dari tanah Mesir-lama. Djantung manusia sedang ditimbang oleh Anubis, dewa-serigala. Seekor burung melukiskan semangat mengawasi pekerdjaan menimbang. Dikiri : Dewa Kebenaran dan disebelah kanan : Dewa Maut.


Ada lagi contoh penjelasan tentang peninggalan di Babilonia dan Sumeria :



Sebelah kiri : Patung radja Gudea dari daerah Lagasj ; dialah jang mendjadikan kotanja djadi kota jang paling berarti di-Sumer, kk. pada tahun 2400 seb. Masehi. Perhatikanlah tulisan paku.

Sebelah kanan : Radja hammurabi dari daerah Babilonia (kk. 2000 seb.Masehi) menghadap dewa matahari, lukisan ini ditemui pada puntjak suatu tugu, penuh dengan tulisan berisi Piagam Undang-undang Hammurabi.

Salah satu foto dari sejarah peninggalan negeri Jepang :


Joritomo Minamoto panglima dan Sjogun (1192-1199) jang mendirikan Kamakura


Selasa, 24 April 2012

BUKU RESEP KUE JADUL

Nemu lagi buku kecil resep masakan dari Blue Band tahun 1975. Dulu buku ini selalu bikin 'ngacay' kalo sedang bulan puasa pas siang hari bolong. Cekidot gambar jadulnya :


Buku itu harganya Rp 50 mungkin sekarang sekitar Rp 50.000-an.....Kita bisa melihat hadiah bagi pengirim sayembara Blue Band dari Unilever yaitu :

Sebuah almari es merk Philips Rp 100.000, gas cooker Sanyo Rp 35.000, blender merk National Rp 23.000, rice cooker National Rp 15.000, mixer pembuat kue merk GE Rp 19.000 dan kompor minyak tanah satu sumbu merk Toyoset Rp 12.500......Hahahaha murceu-murceu kaleeee!

Resep-resep di buku itu masih relevan kok kalo dicoba sekarang. Ada resep bluder tape, black forest, house wife english cake, tulband, rainbow cake, speculaas, sultana, kue kering selang-seling, chocolate brownie, kue jahe, soes, boterham pudding, apple pie, cake kelapa muda, slagroom dan cream moca. I love this book!!!

Senin, 23 April 2012

CERITA TENTANG PASAR BARU BANDUNG

Saya sedang asik-asiknya membaca sebuah buku istimewa 'Semerbak Bunga di Bandung Raya' karangan si kuncen Bandung Bpk (Alm) Haryoto Kunto. Keren sekali buku itu....jempols deh. Berikut cerita tentang Pasar Baru yang saya ringkas dari buku tersebut :

Pada tanggal 25 Mei 1810, ibukota Bandung pindah dari Dayeuh Kolot ke tepi Barat Cikapundung (Alun-Alun). Pasar pertama di Bandung adalah pasar Ciguriang yang dibangun tahun 1812 terletak di kampung Ciguriang (belakang Kepatihan). Kemudian pasar tersebut musnah terbakar pada saat peristiwa kerusuhan "Huru Hara Munada" yang terjadi pada masa pemerintahan Bupati R.A Wiranatakusumah III sekitar tahun 1829-1846. Para pedagang yang 'keluyuran' karena tidak punya pasar, kemudian mangkal di sekitar Pecinan dan membentuk pusat perdagangan baru yang diberi nama  'Pasar Baru'.

Pedagang itu berkumpul sepanjang jalan Oto Iskandardinata (mulai Suniaraja sampai Tegalega). Mereka kemudian membuka toko/warung kecil, sebagian ada yang membuka lapak di pinggir jalan, bahkan ada juga yang masih menjual dagangannya dengan membawa pikulan. Jenis barang dagangan masih berupa peralatan rumah tangga sederhana seperti : ayakan bambu, tolombong, keranjang, sapu, tikar, batu asahan, payung, keset, sangkar burung, kain, dll. Ada juga keperluan wanita yaitu kosmetik tempo doeloe seperti kaca, pupur, harnet, peniti, jarum, minyak wangi, benang, dll. Untuk keperluan pria biasanya berupa tembakau dan rokok daun kawung. Para pedagang itu ada yang dari orang asli Bandung tapi ada yang berasal dari daerah lain misalnya dari Talun (Majalaya), Cianjur, Bawean, Cirebon, Betawi, Tasikmalaya dan pedagang asal wilayah lainnya di Pulau Jawa.

Buku tentang Bandung karangan Haryoto Kunto  (cetakan I, April 1986)
Khusus untuk pedagang kain batik mereka berasal dari Jawa Tengah. Asalnya mereka hanya bekerja sebagai pedagang mandoran atau calo yang mengambil keuntungan dari 'komisi' ambil barang yang diberikan oleh produsen kain batik di Solo, Yogya, Pekalongan, Gresik, Banyumas dan Lasem. Tapi seiring waktu, para mandoran ini berkembang sendiri menjadi pedagang kain grosiran yang sanggup melayani para pedagang eceran di Alun-Alun Bandung bahkan sampai memasok pedagang eceran di kota Lembang, Subang, Cianjur, Soreang, Sumedang dan Cicalengka. Maka mulailah daerah Pasar Baru itu terkenal sebagai pusat grosir perdagangan kain di Bandung.

Para pedagang batik itu asal-muasalnya ditenggarai sebagai prajurit2 Pangeran Dipenogoro yang terdesak mengungsi ke Priangan. Setelah sekian waktu, para mandoran ini berbaur dengan penduduk asli Bandung dan dari merekalah cikal bakal yang menurunkan keluarga pedagang yang bermukim di seputar Pasar Baru. Disebutkan di buku itu, ada 4 orang yang menjadi cikal bakal keturunan 'orang pasar' yaitu H. Kadar, H.Durasid, Ende Rapi'ah dan H. Saleh Katam. Dikemudian hari, dari merekalah lahir kaum saudagar Bandung yang sukses di bidangnya seperti H. Pahruroji, M. Masduki, H. Sarip, H. Idris, H. Umar, H. Ayub, H. Pagieh, H. Achsan, H.M. Bukri. Ada juga saudagar keturunan Palembang seperti KM.Thamim, K.H. Anang Thayib dan K. Abdul Syukur. Saudagar lainnya adalah H. Ali yang anak kerabatnya membeli tanah di Kebon Kawung seperti H. Iskat, H. Akbar, dan H. Mohamad Mesrie. Banyak dari orang pasar itu namanya dibuat menjadi nama-nama jalan di Bandung hingga kini. Ada foto di buku itu yang memperlihatkan kumpulan para pemuka saudagar Pasar Baru yang sedang 'seba' alias setor muka menghadap ke dalem/ Bupati Bandung, dimana bukan hanya saudagar pribumi tapi juga ada saudagar dari Turki dan Arab.

Saudagar Bandung lainnya yang tercatat adalah H. Sape'i pedagang tembakau di jalan Dulatip dan H.Iyas pedagang telor asin di jalan Banceuy. Ada juga saudagar delman dari Betawi yaitu Bang Naripan, dan pengusaha tionghoa yang sukses pada jamannya yaitu tukang kayu & mebel Babah Tamblong, Babah Uyong pemilik warung di Alun-Alun, Babah Eng Coan seorang pedagang di Pasar Baru dan Babah Kuya yang menjual jamu2an di jalan Belakang Pasar hingga sekarang. Sampai tahun 1920-an pedagang Pasar Baru menemui masa keemasan. Untuk menjamin kestabilan harga, pemerintah Belanda pada saat itu mendirikan 'Jawatan Pengendali Harga' yang mengharuskan setiap pedagang menempelkan label harga pada barang jualannya, jika tidak maka akan di-bute alias di denda. Pada tahun 1932 terjadilah 'maleise' yaitu inflasi sedunia sehingga harga uang jatuh. Masa sulit itu menurunkan daya beli masyarakat sehingga kejayaan Pasar Baru meredup.

Saya belum menemukan keterangan tentang Pasar Baru pada saat jaman Jepang (1942-1945) sampai jaman perjuangan kemerdekaan. Tapi saya coba mengingat-ingat tahun 1970-an, pasar ini ramai sekali tapi kumuh. Biasanya Ibu membawa saya ke Basement karena di sana banyak pedagang sayur dan daging segar yang berjajar diterangi banyak lampu karena gedungnya gelap dan kotor. Sejak tahun 2003 Pasar Baru disulap menjadi pasar modern dengan bangunan bertingkat dan dilengkapi dengan lift & elevator. Entah mengapa setiap belanja di Pasar Baru yang sekarang, rasanya sama saja dengan berbelanja di mall atau supermarket, roh pasar tradisionalnya telah hilang. Bahkan sekarang ketika dibuka rute penerbangan murah ke Bandung, banyak pembeli datang dari Malaysia, Singapore, India dan Arab yang kadang memborong barang2 di sana untuk dijual kembali di negaranya. Apakah ini tanda Pasar Baru mengalami jaman keemasannya lagi?.....Wallahu'alam.







Minggu, 22 April 2012

MAKANAN MEXICO

Sejak ditayangkannya telenovela dari Mexico dan negara2 Amerika Latin seperti Brazil, Venezuela, Peru, Colombia dan Argentina, saya seperti terkena magnet untuk terus menonton aktor dan artis amerika latin yang ganteng & cantik itu. Pengaruh lainnya adalah ingin mengenal dan mencicipi cita rasa kuliner dari kebudayaan latinos tersebut. Berikut adalah beberapa makanan yang sempat saya cicipi :

1. Nachos
Makanan ini biasa ada di snack corner bioskop 21, sambil menunggu pintu studio dibuka, saya pesan saja nachos yang terdiri dari keripik jagung diberi topping keju cream, lelehan keju mozarella, keju parut dan manisan cabe hijau jalapenos....ehmm enak!

2. Churros
Snack manis seperti kue kering berbentuk stick batang bergerigi yang diberi isi di dalamnya. Terbuat dari dough gandum yang digoreng, isinya bermacam-macam dari mulai selai buah, keju, vanilla, coklat, susu, kopi, lemon cream, dll. sampai bingung memilihnya. Kadang ada juga churros yang tanpa isi tapi cara makannya dicelupkan ke saus coklat atau ditaburi bubuk gula. Saya tahu cemilan ini dari acaranya si Samantha Brown sang traveler TLC yang sedang meliput traveling ke mexico. Buat saya kue churros itu terlalu manis, sehingga satu buah kue saja membuat ingin minum terus. Saya menemukan churros ini tak sengaja di sebuah cafe di lantai dasar BIP.

3. Tacos
Makanan yang terbuat dari corn tortillas berwarna kuning yang dipanggang sebentar kemudian dilipat 2 bagian dan ditengahnya diisi sayuran selada, tomat, daging cincang, saus salsa, mayonaise dan parutan keju. Banyak juga sekarang yang menjajakan tacos di  roda pinggir jalan atau dijual di stand sebuah bazzar.

Campuran fajitas, tostadas dan burritos di Amigos Pasteur

4.Burritos
Makanan ini ukurannya lebih besar dibanding tacos. Kulitnya terbuat dari wheat tortillas berwarna putih yang di panggang kemudian tengahnya diisi daging cincang, bawang bombay, tomat, paprika dan digulung persis seperti kebab turki. Satu porsi burrito setara dengan 2 atau 3 buah tacos. Pertama mencicipi burritos ketika saya menemukannya di sebuah roda yang 'eye catching' di pinggir jalan daerah Antapani. Lengkap juga jualan si mang ini, selain burrito ada juga tacos, nachos dan fajitas, hanya sayang semuanya memakai saus cabe pedas sehingga terlalu pedas untuk anak kecil.

5. Fajitas
Makanan ini mirip isi burrito tapi ukurannya sedang. Biasanya isi dagingnya dipisahkan dalam sebuah piring, baru kemudian diisikan sendiri ke tortillas dan dicocolkan ke saus salsa atau saus alpukat (guacamole). Sebenarnya fajitas lebih fokus ke hidangan dagingnya bukan kulit pembungkusnya. Untuk lidah orang Indonesia mungkin adanya daun cilantro di saus salsa akan membuat rasa yang khas dan agak sengak.

6. Main Course makanan Mexico
Saya lupa lagi nama menunya, tapi yang saya ingat porsinya besar sekali. Satu piring terdiri dari daging semur manis pedas, suwir ayam tomat, sejenis nasi goreng, kacang merah (kacang pinto) berbumbu manis gurih dan salad tomat - alpukat. Rasanya cukup familiar untuk lidah orang Indonesia, segar-segar pedas berbumbu rempah daun. Saya mencicipi makanan ini di salah satu rumah makan Mexico di Kuta Bali, tempatnya agak tersembunyi, masuk ke gang kecil kurang lebih 200 m dari jalan utama Pantai Kuta.

7. Tostadas
Seperti taco, tetapi corn tortillanya  tidak dilipat. Daging, pasta kacang merah, salada, tomat ditata di atas tortilla kemudian ditaburi dengan keju parut yang banyak dan diberi garnish paprika atau jamur.

8. Enchiladas
Seperti burritos tapi setelah dibungkus wheat tortillas kemudian dipanggang lagi dengan saus salsa atau saus tomat.
Menu di restoran Mexico

9. Pinacolada
Sejenis minuman segar yang terbuat dari juice nanas yang di-mix dengan santan segar, gula, sedikit air jeruk dan beberapa kubus kecil es batu. Biasanya disajikan dalam gelas yang diberi garnish buah nanas segar.

 
10. Margarita
Minuman berwarna kuning yang dibuat dari campuran sari tumbuhan blue agave (tequila) dengan jeruk lemon, gula dan es yang diserut. Saya memesan yang virgin margarita (margarita tanpa alkohol) di sebuah rumah makan mexico di ujung jalan Pasteur. Dalam penyajian, bibir gelasnya dilumuri dengan garam. Saya sempat merasa 'keasinan' dengan garam itu dan menurut lidah saya, minuman ini rasanya mirip dengan air manisan buah pala.


Virgin Margarita